Wednesday, April 06, 2005

Sebuah Perselingkuhan yang Amat Singkat

Kafetaria. Jam Makan Siang.

Tempat ini selalu penuh dengan para karyawan yang lapar dan lelah. Siang-siang begini, mereka dengan patuhnya melahap apapun yang kami sajikan. Tanpa tahu apakah makanan itu sudah dilumuri ludah atau hal-hal lain yang sulit untuk dibayangkan.

Tapi aku berhenti melakukan itu sejak dia datang. Namanya, aku lihat dari kartu nama yang bergelantungan di lehernya, adalah Arifin. Ganteng. Pria itu bekerja di 'Schroeder' (bagaimana cara membacanya?).

Dia muncul di kafetaria ini sejak seminggu yang lalu. Satu hari sesudah kemunculannya, aku menghabiskan uang mingguan untuk membeli parfum baru dan rok.

Tentu saja, suamiku segera protes. "Buat apa sih, parfum? Kamu pakai satu botol juga akan tetap bau minyak goreng!" ujarnya ketus.

Hari-hari belakangan ini ia tampak semakin hitam saja, suamiku itu. Aku tidak pernah menyadari ini sebelumnya, tapi kayaknya hidung suamiku itu berukuran terlalu besar. Belum lagi noda hitam di sisi bibirnya, apa itu? Tompel? Tahi lalat? Andeng-andeng? Tanda lahir?

Sore ini Arifin akan bertemu denganku. Kami sudah berjanji tadi. "Nanti sore ya mba'yu!" serunya sesudah makan siang. Ia makan siang agak cepat karena harus rapat.

Aku menggodanya, 'sibuk? cari lemburan buat istri ya?' Ia hanya menjawab dengan singkat, "Belum punya istri nih mba'yu. Cariing doong," Uhh, rasanya aku ingin melumat mulut yang bau minyak itu dengan bibirku!

Kafetaria. Sore

Ariefin masuk dari pintu besar. "Gimana mba'yu? sudah siap?" kata-katanya ringan.

'Ooh jelas. Aku selalu siap. Aku selalu siap untukmu!' hatiku berlompatan. Tanganku menyerahkan bungkusan itu padanya.

"Ok deh. Jadi berapa semuanya?" sambil menyodorkan selembar lima puluh ribuan ke tanganku. 'Uuuh, selipkan saja di dadaku, semua uang juga masuk ke situ kok,' benakku nakal!

Aku mendekatinya, hendak mengatakan sesuatu yang sangat romantis (entah apa).

Tiba-tiba, pintu depan berderak. Sesosok pria muncul. 'Oh sial!' aku mengumpat diam-diam.

Arifin pergi. Suamiku, yang muncul untuk menjemput, menggamit tanganku. "Kamu wangi," ujarnya perlahan. Kalimat paling romantis yang pernah aku dengar.

Sunday, February 13, 2005

Angin Bertiup Dingin

Sore itu angin bertiup dingin. Pikiranku melayang pada kamar yang hangat di lantai dua sebuah rumah sederhana di Perumahan Rakyat. Di situ, di sebuah ruangan berlantai kayu, di atas dua bilah kasur busa yang disatukan agar memuat dua orang, tertidur istriku. Wanita bertubuh mungil dan kurus.

Tubuhnya, aku bayangkan, pasti menggigil. Meskipun itu ruangan yang hangat. Wajar saja, karena beberapa hari ini ia baru saja mengalami hal yang berat. Baik secara badaniah, apalagi secara batiniah.

Aku melesakkan tanganku lebih dalam ke kantung jaketku. Mengharapkan kehangatan yang lebih dalam. Mungkin bisa membantuku meredam kegagalan yang beku.

Hari ini aku gagal lagi. Cerita yang aku tulis untuk sebuah majalah, tempat temanku bekerja, lagi-lagi tidak dimuatnya.

Kemarin juga sama saja. Pekerjaan menerjemahkan yang dijanjikan padaku dari seorang kawan ternyata tidak juga tembus. Ia selalu menunda-nunda waktunya, aku sampai berpikir ia mungkin memang tidak pernah benriat untuk memberikan pekerjaan itu padaku.

Jika ada yang bilang memiliki teman di media akan memudahkan naskah anda untuk dimuat, jangan percaya!

Sebagai mantan wartawan, satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah hal yang berkaitan dengan tulis-menulis. Jika dulu yang kutuliskan adalah fakta, maka sekarang fiksi. Hanya itu bedanya.

Namun aku kira mereka tidak akan pernah memandangku dengan dua mata lagi. Satu mata mereka pasti tertutup dengan sebuah coreng hitam. Aku pernah menerima amplop.

Ya. Mungkin tabu paling besar bagi kebanyakan wartawan adalah menerima amplop. Yang konon bisa disetarakan dengan menerima suap.

Perusahaan tempatku bekerja segera tahu ketika pada suatu liputan ke rumah seorang mantan pejabat aku dibekali amplop. Aku menerima amplop itu. Sumpah, itu pertamakalinya aku menerima amplop.

Kondisi yang mencekik leher yang memaksaku melakukan itu. Ayahku sakit keras, ibuku semakin pikun. Listrik dan telepon di rumah mereka, tempat aku dan istriku menumpang, sudah berbulan-bulan mati. Sementara istriku sedang hamil muda. Apa yang bisa aku lakukan saat disodorkan sebuah amplop padata uang ratusan ribu rupiah?

Tapi setidaknya aku bukan wartawan bodrek yang menodong amplop pada tokoh-tokoh dan direktur-direktur! Setidaknya aku masih memiliki harga diri di situ! Ya kan?

Aku menuju rumah. Istriku yang baru saja keguguran pasti menggigil. Kami bahkan tidak mampu membayar dukun beranak untuk memijat istriku.

Hari-hari belakangan ini pendarahannya makin menghebat. Padahal sudah hampir sepekan sejak janin dalam kandungannya meluruh. Sesak dalam dadaku terasa makin menggila.

Aku mencoba menghubunginya lewat ponsel usang yang mati-matian kupertahankan. Tapi telepon rumah sudah tidak tersambung lagi. Ponsel istriku juga sudah lama terjual, jadi tidak mungkin sms.

Aku hanya ingin mengabari bahwa aku gagal lagi. Tapi temanku menitipkan selembar amplop, di dalamnya beberapa lembar uang puluhan ribu. Cukup untuk makan beberapa hari ke depan.

Aku hanya ingin mengatakan padanya untuk tidak khawatir. Aku ingin ia tahu bahwa angin yang menusuk dingin ini tidak akan membuatku menyerah. Aku ingin ia tahu bahwa aku akan selalu berusaha untuknya. Bahwa aku memang benar-benar selalu jatuh cinta setiap kali melihat senyumnya yang terkembang.

Aku ingin mengatakan bahwa aku juga kangen. Kangen, seperti dibisikkannya tadi pagi saat aku hendak berangkat.

Perasaanku aneh, aku harus cepat pulang. Entah kenapa aku merasa bisikannya tadi pagi adalah salam perpisahan.

Friday, September 03, 2004

Perawan dan Perhatian Seorang Tukang Bakso Keliling (2)

Bakso terbuat dari daging dan tepung tapioka, tepung kanji, tepung terigu, garam. Serta jangan lupa bumbu penyedap. Nita terserap, pada wujud bakso yang dihadirkan Migin dalam mangkuk ayam jago. Ia terserap pada bayang-bayang kenikmatan yang menanti. Dari setiap tetes kuah, dari setiap gigitan dan dari setiap cerapan di ujung lidahnya. Oooh, jangan hentikan aku sekarang* ceracau Nita dalam hatinya.

Migin menyerahkan semangkuk bakso yang dibuatnya dengan sungguh-sungguh. Semangkuk penuh bakso, kuah, mi telor, bihun, potongan kecil lemak plus daging, lembaran tipis sawi hijau, cincangan daun bawang, sejumput bawang goreng, garam dan bumbu penyedap. Migin terkesiap, Nita menyerahkan selembar seratus ribu rupiah. Bakso ini, meskipun yang paling sedap di dunia, tidak sampai segitu harganya Non, pikir Migin.

Dan Migin sigap. Berpikir keras mengingat-ingat, dalam laci uang di gerobak bakso tidak lebih dari delapan puluh ribu rupiah yang tersisa. Alamaaak, bagaimana membayar kembaliannya?

"Non, ada yang lebih kecil? Ini terlalu besar, saya belum punya kembaliannya," ujar Migin, polos dan jujur.

Nita terganggu. Inilah penghalang antara dirinya dan surga, masalah kembalian membuat semangkuk bakso tak bisa pindah tangan. Dan bayang-bayang kenikmatan sirna sudah. Tidak! Nita menolak. Pikirannya berkelebat dari satu sel otak ke sel otak berikutnya. Huaaah!

"Ya sudah Bang, ambil saja kembaliannya," Nita pasrah.

Tapi, tapi, tapi. Migin tak bisa berkata-kata. Di tangan kanannya selembar uang, seratus ribu rupiah. Di depannya seorang gadis, ranum, padat, begitu muda, begitu kaya, begitu sombongnya meletakkan uang seratus ribu untuknya. Puih! Kau kira aku akan berterimakasih karena itu? Huek! Migin muntah-muntah dalam hatinya.

"Baiklah, saya terima. Tapi mangkoknya ambil saja!" Migin berseru lalu melangkah pergi.

Friday, April 02, 2004

Perawan dan Perhatian Seorang Tukang Bakso Keliling 1

Di rumah berwarna biru, yang pagarnya seperti bambu tapi terbuat dari baja, hidup seorang perawan.

Sementara di sebuah gubuk, jauh di tepian kota, di sebuah kampung becek, tinggal seorang tukang bakso keliling.

Bagaimana sang perawan setiap pagi membasuh tubuhnya dengan air dan sabun, tidak perlu diceritakan disini. Apalagi setiap lekuk tubuhnya yang molek.

Bagaimana si tukang bakso menyiram tubuhnya sekenanya, dengan air pompa sumbangan tetangganya. Tanpa sabun. Dan setiap hari bermandikan keringat di jalan-jalan. Itu juga tidak usah diceritakan disini.

Hal yang penting adalah bagaimana, pada suatu hari yang panas menjelang hujan, sang perawan memanggil si tukang bakso. Dari balik pagar yang mirip bambu, tapi terbuat dari baja, sang perawan memesan semangkuk panas bakso pedas. Lengkap dengan semua bumbu dan atributnya. Lengkap dengan saus merah dan cabai. Lengkap dengan irisan kecil lemak dan daging. Lengkap dengan... yah pokoknya semua yang bisa dimasukkan dalam semangkuk bakso!

Dalam pandangan sang perawan...

Tunggu sebentar, ini mulai membuat lelah. Mulai saat ini kita sebut sang perawan dengan nama Nita. Oke, itu bukan nama sebenarnya. Tapi, demi kenyamanan cerita ini, mari kita sepakati hal itu.

Kemudian, si tukang bakso sekarang akan kita panggil Migin. Setuju tidak setuju!


Dalam pandangan Nita, satu mangkuk bakso itu adalah surga. Hari yang panas-dingin seperti sekarang sangat membutuhkan pelepasan. Ia membayangkan dirinya bermandikan keringat, meski dalam rumah yang selalu ber-AC itu. Ia membayangkan napasnya yang tidak teratur, menghembus-hembuskan hawa panas. Bibirnya yang berdenyar-denyar dalam pedas yang menggelora. Ooh! Huuh! Yeah!

Dalam kepala Migin, ini adalah surga! Seorang gadis molek berpakaian ketat dan seterusnya dan seterusnya. Hari yang panas, tubuh yang lelah. Ah, semua itu tidak ada artinya. Maka dalam hatinya terhunjam tekad. "Ia harus merasakan Bakso paling lezat di seluruh dunia... bakso paling lezat yang pernah ada! Ha ha ha ha ha! Akan kubuatkan surga untukmu Non! Surga dalam semangkuk Bakso!!" hatinya menggelinjang oleh pikiran itu.

bersambung

Saturday, March 20, 2004

Jangan Telepon Aku Tengah Malam

"Rrrriiiiiing!!!" Dering telepon meratap minta diangkat. Padahal malam itu, lima menit lewat tengah malam, sudah tidak ada insan yang terbangun di rumah itu.

Ruang keluarga, tempat telepon itu diletakkan pada sebuah meja kecil di samping lemari, nyaris tidak bercahaya. Cahaya kebiru-biruan, yang membuat ruangan itu nampak seperti berada di bawah laut, berasal dari kombinasi lampu neon di beranda dan tirai yang menutupi jendela besar ke beranda itu.

"Rrrrriiiiing!!!" Lagi-lagi ratapan dering telepon itu mengamuk. Dan seperti sebelumya, tidak ada satupun penghuni rumah yang beringsut dari tidurnya. Mungkin malas, mungkin juga habis ditelan oleh mimpi indah.

***

Seandainya ia benar-benar tertidur, tentu Rina tidak akan resah. Masalahnya, malam ini ia terjaga dan segar bugar terbaring di atas kasur spring bed di kamarnya. Terlentang di atas kasur, Rina memejamkan matanya dan pura-pura tidur. Sementara suara dering telepon seperti hendak memekakkan telinganya.

"Kenapa kamu menelepon aku tengah malam begini? Kau tahu aku biasa tidur cepat. Kau tahu aku tidak akan mengangkatnya. Bagaimana jika 'dia' yang mengangkat? Apakah kau akan diam saja? Seperti telepon-telepon iseng yang membuat orang ingin mencabut gagang telepon dari tempatnya dan membanting telepon itu sejadi-jadinya? Kenapa sih?" batin Rina riuh-rendah oleh keresahan itu.

Ia membolak-balik tubuhnya dalam selimut, di atas kasur. Setengah mati ia menahan keinginan untuk mengangkat telepon dan berbincang dengan sang penelepon. Dalam hatinya ia yakin, penelepon itu adalah kekasihnya.

Kamar itu hening sejenak. Kemudian, dering telepon yang sebenarnya pelan namun terasa memekik di telinga Rina kembali terdengar. "Rrrriiiiing!!!"

***

Andre tertidur nyenyak di samping istrinya. Setidaknya ia tertidur nyenyak sampai, lima menit setelah tengah malam, terdengar bunti deirng telepon dari ruang keluarga. "Aduh!" batinnya.

Eksekutif muda di sebuah perusahaan asuransi ini pura-pura tertidur lelap. Namun diam-diam ia mendengarkan terus, menunggu dering itu.

"Sudah aku bilang, jangan telepon aku ke rumah... apalagi tengah malam, bahaya tahu!" ujar Andre pada kekasih gelapnya, malam sebelum ini. Waktu itu Rina, istrinya, menginap di rumah orangtuanya karena mau mengurus pernikahan adik bungsunya.

"Tapi aku kangen betul sayang, dan kamu kan udah bilang kalau si jalang itu mau pergi ke tempat orangtuanya.." suara manja mendesah membuat Andre melunak.

"Iya. Aku cuma nggak mau hubungan kita kebongkar... kamu tahu kan, kalau aku minta cerai karena selingkuh, pasti dia bakal minta gono-gini dan segala macem tetek-bengek... malah jangan-jangan prosesnya bisa lebih panjang," Andre melanjutkan, kali ini suaranya lebih lembut.

"Sayang.. kenapa aku nggak boleh nginep disitu aja.. toh si jalang itu gak akan pulang sampai besok sore..." suara manja itu menggoda.

"Husy!! Emangnya kamu pikir tetangga gak akan lihat.. belum sopirku yang pagi-pagi pasti sudah datang untuk mencuci mobil.. kamu mau ketahuan?"

Malam ini Andre heran kenapa kekasih gelapnya itu menelepon lagi. Mungkinkah ia kesepian, memang ia masih mahasiswa dan tinggal sendirian saja di Jakarta, tapi seberapa kesepian sih sampai harus menelepon dua malam berturut-turut?

"Rrrrriiiiiing!!" Ketika telepon terdengar lagi, Andre sudah lelap tertidur. Kelelahannya terlalu banyak untuk membuatnya terjaga, lagipula ia tidak merasa bersalah, "Kan sudah aku bilang, jangan telepon.." batinnya, meluruskan rasa bersalah.

***

"Rrrrriiiiing!!!" Dering telepon memekik, minta perhatian. Entah sampai kapan.

Thursday, January 29, 2004

Pertemuan Kecil

(written by Senja Jingga)

Sebelum pertemuan: Bagaimana mengurai rindu dan amarah yang membelit seperti benang kusut tak beraturan? Saling bersilang-silang, bertumpuk dan tindih-menindih. Kenyataannya aku perih, luka dan letih. Tetapi ada desakan di dalam yang menyembul, menggapai, sukar di lawan: aku rindu dia!

Sudah berpuntung filtra ku hisap. Duduk gelisah di bangku peron stasiun keberangkatan luar kota. Ku ingat lagi sms yang dia kirim petang kemarin: "Dari Yogya jam 8 malam, mungkin sampai Gambir pagi sekitar jam 10-an, jemput ya.." Ku ingat lagi kapan terakhir kali pertemuan dengan dia. 3 bulan yang lalu ku rasa, tetapi kenyataan yang kujalanani seperti sebuah pengalaman usang yang sudah di tutup seperti dalam kumpulan album video. Kenyataan yang aku sendiri sangsi apakah benar aku nikmati dengan sepenuh hati? Terlalu banyak peristiwa yang berlari, suasana yang berbayang buram, kenyataan yang akan pahit buat di ingat-ingat. Retakan janji.

..........

Suasana agak ramai di stasiun kereta ini meredam sedikit kecewa karena kereta (lagi-lagi) telat dari jadwal. Entah kenapa melihat orang lalu-lalang hendak bepergian membuat pikiran jadi tidak lagi terfokus untuk menunggu dia datang -yang karena fokus itu membuat keringat dingin dan kecepatan ku menghisap filtra jadi bertambah-. Akan kemana orang-orang itu pergi? Kulihat wajah-wajah yang satire menggenggam tiket. Suasana bukan holiday, tapi masih saja ada waktu buat orang-orang untuk bepergian, menanggalkan seribu masalah di rumah atau menambah masalah karena bepergian dengan status dinas? Ah, jadi ingin bepergian, meninggalkan seratus duka di rumah.
Mencari suasana asing, orang-orang asing. Alam raya yang masih luas ini terlalu sayang untuk cuma jadi lintasan jalan dan rel kereta. Cuma jadi titik dan garis dalam peta. Aku ingin ke gunung, danau yang jernih, membasuh muka, membasuh jiwa. Ah..

Sudah beberapa kereta lewat. Sudah beratus orang turun dan bergegas meninggalkan peron. Tapi kereta belum juga tiba membawa dia. Sepasang muda-mudi lewat di depan ku, sekilas terlihat cincin emas melingkar di jari manis mereka. Menikah? Kata asing ini melingkar juga di urat nadi. Terus terpompa ke arteri darah masuk ke bilik jantung mebuat darah berdesir cepat. Tercekat di tenggorokan. Duh Tuhan kenapa aku mual dan ingin muntah ? Ilusi masa depan ? Buru-buru aku minum dan kembali mencoba bersikap tenang.

Pikiran tentang masa depan selalu saja membuat iri. Kenapa cuma bisa dipikir. Fobia, takut dan kecemasan. Seperti hantu yang tak nampak yang samar-samar berbayang di tirai jendela waktu malam. Terlalu banyak yang mesti di sembunyikan. Terlalu banyak gembur-gembur tanah tempat mengubur kesetiaan. Terlalu banyak lubang-lubang ku gali dan kubiarkan kosong lupa ku tutup kembali. Ketakutan akan terjerembab dan hilang ditelan galian itu. Kesempurnaan memang bukan identitas human manapun kurasa, tapi bukankah jalan menempuh itu wajib pula di ikhtiarkan. Pekat nian kabut itu untuk kutembus. Atau aku yang tak punya nyali lagi melihat dengan mata jujur. Aku capek.

Rasa letih dan luka ini makin menjadi borok sejarah. Luka yang tergores lama dan makin menjadi karena lupa ku tutup. Tepian yang mulai sembuh terkoyak lagi tersayat pisau berkarat. Seribu puisi sesal rasanya tak cukup kuat menutup darah yang mengucur hebat. Seribu filtra ku hisap tak akan cukup menghilangkan kepenatan dan desakan kuat untuk meminta maaf. Rasa bersalah. Luka. Letih. Rindu. Adakah kamu mengerti ? Aku janjikan jalan yang lapang buat kau itu, adakah kau simpan didalam kalbu? Hik..hik, gadis, betapa kental tangis ku untuk semua memoar yang pernah kita jalani bersama.

Pepohonan, rumah makan, hujan, dedaunan, cinemac, senja.. Aku benci dengan semua yang kelak akan pudar dan tak mungkin tertahan diamuk badai perubahan.


15-Maret-03 22:53
From : 081xxxxxxxx
"Mas, semester depan aku udah bisa ikut wisuda.
Doa'in yah. Mas ke Yogya-nya bareng Papa sama Mama aku aja.
Hitung-hitung pelajaran kalau nanti kita udah nikah. He.He
Miz U. Love"


Gadis kau kirimi aku massage kegelisahan. Aku tak tahu apakah masih bisa bertahan hingga ke waktu yang kau minta itu. Aku letih. Kau luka. Adakah kau tangisi jika masa itu tiba?

...................

Sudah bungkus kedua filtra bersampul putih ini ku buka. Aku makin gelisah dan merinding. Aku tak bisa menduga apakah ini akan jadi kegelisahan ku yang terakhir di stasiun ketika harus menunggu dia dari luar kota. Simpul senyumnya menari lagi di atap-atap stasiun yang penuh oleh rangka besi berwarna hijau. Pyar..Lamunan ku buyar. Announcement pengawas peron memberitakan kereta dari Yogya 10 menit lagi tiba. Aku berdiri menyimak tajam, seperti berdirinya penonton memberikan tepukan tangan pada akhir sebuah concerto musik klasik. Akhirnya..

Benar juga. Kali ini tepat sistem kereta api. 10 menit lebih 28 detik yang terbaca pada jam digital ku, lokomotif kereta muncul berdegub-degub. Kutatap lekat-lekat gerbong yang lewat seperti membawa bau Yogya menyibak udara yang memutar lemas di stasiun. Ngomong-ngomong, aku baru tersadar bahwa dia lupa (atau sengaja) memberi tahu gerbong mana dia duduk. Baik, kuselidik dari depan ke ujung saja. Aku lari menuju gerbong ke depan, tapi sulit, orang-orang sudah banyak turun, berbeban pula.

Seseorang tiba-tiba menarik tas ransel ku dari belakang. "Hai. Lama nunggu ya?" Glek, suara itu ! Lama ku menengok kebelakang. Suara
itu tak perlu menegaskan lagi siapa pemiliknya. Suara dari himpitan nyeri dari ulu hati ku sendiri. Suara yang membuat letih sekaligus ku rindu. Suara dia. Gadis itu. "Hei!" Usik nya lagi. Perih. Aku menengok juga ke belakang.

"Kamu..kenapa nangis ?"

Angry Dog Rambling (Ceracau Anjing Ngamuk!)

Angry Dog duduk di muka tendanya. Jika sebuah kain terpal lusuh berwarna hijau-kuning-kecoklatan yang ditopang oleh kayu-kayu bekas bisa disebut tenda.

Di lapangan kecil tempat bangkai mobil Angry Dog menetapkan kampung halamannya. Lokasinya tepat ditengah-tengah kota Semrawut, tempat berkumpulnya bandar narkoba, bandar judi dan bandar pelacur.

Ia menghisap pipa gadingnya. Pipa gading yang dihiasi ukiran Indian kuno itu selalu diisinya dengan rumput kering, marijuana dan sedikit tembakau: cukup untuk menemani ceracaunya.

Hari ini, sebuah Rabu yang melelahkan, Angry Dog meracau. Waktu sudah senja sebenarnya. Senja di Semrawut bisa dikenali dengan sinar matahari Jingga yang menyepuh setiap tembok lusuh, persis seperti cahaya lampu jalanan menyirami kulit yang keriput.

"Mereka membangunkan kami di tengah-tengah malam, menyuntikkan obat bius yang baunya seperti bisa ular derik, lalu pergi tertawa-tawa.

"Para wanita keluar dari tenda, bertelanjang dada sambil menggumamkan mantera lama yang sudah menjadi terlarang. Lalu dengan segenap kebiadabannya, para lelaki kulit hijau itu menggarap mereka. Tentunya, sambil tertawa-tawa juga.

"Aku masih terlalu kecil untuk melawan. Lagipula, mereka juga menyuntikkan kami, anak-anak kecil, dengan obat bius yang baunya seperti lolipop rasa permen karet.

"Aku ingat betul Losing Lisa, kakak perempuan Mute Bear yang kehilangan satu kakinya ketika berusaha membuat perahu dari bekas lemari es. Lisa menari seperti kesetanan, kurasa ia benar-benar kerasukan setan.

"Lalu kulitnya yang halus seperti rajutan nenek Howling Nanny diterpa cahaya kebiruan yang sengaja disorotkan para biadab berkulit hijau itu. Aku ingat ketika remaja aku biasa mengenang Losing Lisa dengan segenap kemampuanku, saat menyelesaikan 'pekerjaan pribadi' di kamar mandi umum.

"Losing Lisa. Losing Lisa!" Tepat saat ini Angry Dog mulai menangis. Airmatanya berjatuhan layaknya kelereng berjatuhan dari kantung karung goni yang bocor.

"Losing Lisa. Si cantik dari padang rumput. Aku mencintaimu dengan segenap tubuh dan kemaluanku!" Angry Dog berteriak-teriak. Satu tangannya memegang pipa semakin erat. Tampak perubahan di matanya, menjelma seperti mata lelah binatang buruan yang terdesak.

"Para biadab itu menyakiti Lisa. Mereka menusuk-nusuk Lisa. Mereka mengoyak Lisa. Mereka menghantamnya dengan palu. Mereka menyeretnya. Mereka tertawa. HA HA HA HA! Mereka menyuruhnya berdiri seperti anjing kencing. Mereka mengikat lehernya. Mereka menyakiti Lisa. Biadab itu senang sekali, Lisa adalah yang paling cantik diantara perempuan suku kami. Lisa adalah peranakan setengah kulit hijau setengah suku kami, hasil perkosaan para biadab!

"Oh Lisa. Losing Lisa. Kau camar yang diburu hiu. Kau camar kau merpati. Kau kupu-kupu khayalanku. Kau kusetubuhi setiap malam, dalam mimpiku yang paling indah. Oh Lisa. Oh Lisa. Kau terlalu indah untuk mereka!"

Angry Dog mengambil gumpalan (rumput kering, marijuana dan tembakau) dari dalam kantung kecil karung goni yang biasa digunakan kanak-kanak untuk menyimpan kelereng. Kantung itu juga dihiasi motif indian kuno yang berwarna coklat-kemerahan, dilukis dari darah.

"Kulit hijau biadab. Kemudian, waktu aku cukup besar untuk memikul kapak. Kubawa kapak yang paling tajam dan kuhunjamkan pada dada setiap kulit hijau yang bisa kutemui. Aku benci mereka, aku senang melihat darah hijau mereka muncrat dari dada yang terbelah. Aku benci mereka yang mengambil Losing Lisa dari kami!"

Angry Dog berdiri di depan tendanya, pipa gadingnya terjatuh. Kemudian seketika ia bersujud di depan tendanya. Airmata mengalir deras, membentuk lumpur tergenang.

"Lisaaaa," erangannya panjang dan parau.

Beberapa saat kemudian Semrawut ditimpa malam. Bayang-bayang malam tanpa bulan-tanpa bintang menindih perkampungan Angry Dog. Apakah sebuah tenda terpal hijau-kuning-kecoklatan dan serangkaian bangkai mobil bisa dibilang perkampungan?

Malam itu Angry Dog tertidur lelap, seperti bayi, di depan tendanya. Igauannya terdengar berulang-ulang, "Lisa...Lisa...Lisa...Cintaku...Lisa..."

Tengah malam, yang selalu ditandai dengan dentaman jam besar di tengah Semrawut, menjelma. Datang cahaya kebiruan menyiram perkampungan Angry God. Ia tahu benar cahaya apa itu.

"Lisa?" teriaknya pada sekumpulan bayang-bayang yang mendekat. Mereka semua mirip laki-laki, hanya saja tidak berambut atau berpakaian. Kulit mereka hijau metalik.

"Kulit hijau? Pergi...pergi...pergiiii!" Angry Dog berteriak putus asa, kakinya terikat oleh sesuatu, nampak seperti kabel dari tembaga.

Mereka mendekat. Salah satunya membawa suntikan, aroma bisa ular derik meruap dari ujung suntikan itu.

"Lisaaaaaaa!" teriakannya melanglang hingga seluruh Semrawut. Pecah langit!

Sunday, January 25, 2004

Hujannya Senin Pagi

Senin pagi, Doethe harus menyerah pada waktu dan kekacauan rutin setiap minggu. Matanya yang perih (karena semalaman habis menonton film 'dewasa') dan tubuhnya yang pegal (mungkin ada hubungannya dengan satu pak rokok Filtra dan dua cangkir kopi yang dihabiskannya semalam) harus diredam demi mensiasati waktu. Toh, ia harus sampai di kantor sesegera mungkin.

Dalam kendaraan yang berdesakan, hawa panas meruap hingga perih di matanya semakin perih saja rasanya. Doethe hendak menguap, tapi ditahan karena khawatir menghirup beragam larutan keringat yang melayang di udara.

Belum seberapa jauh bus itu melaju, ia merasakan sedikit perbedaan pada cuaca hari itu. Benar juga, tiba-tiba hujan turun di senin pagi.

Oke, hujan memang sesuatu yang indah dan berkah untuk umat manusia, tapi dalam kasus Doethe pagi ini ia mengutuk hujan. Masalahnya, hujan juga membawa udara lembab dari luar ke dalam.

Bagi yang berkendaraan tertutup dengan AC dan minus berdesak-desakan, hujan pagi ini benar-benar romantis. Bagi Doethe, dan entah berapa lusin penumpang yang berhimpitan disekitarnya, hujan adalah petaka.

Lembab udara mendesak masuk, lubang napas seperti disumpel dengan tisu tipis basah berbau asam. Belum lagi aroma lain yang ikut-ikutan mengacaukan suasana. Aduuh! Ada yang kentut lagi! Sialan! Doethe mengutuk dalam hatinya.

Pagi ini, senin pagi yang hujan ini, Doethe mencoba larut dalam lamunannya: tentang mobil pribadi ber AC, tentang alunan musik yang mengalir lembut dari sound system Bose di dashboard (tentunya surround dan gegap gempita), jika perlu tayangan film DVD terbaru di layar pribadi (duduk di kursi belakang, asik sendiri, sementara di luar kemacetan melindas jalanan!).

Ah, khayalan dan lamunan jadi teman yang menyenangkan pagi-pagi begini. Apalagi, senin pagi (yang selalu tegang dan melelahkan) ditambah hujan!

Imajinasi adalah satu-satunya pelarian yang nyaman!

Monday, January 12, 2004

Sindroma Hari Senin

Entah karena semalam habis mabuk, atau memang pada dasarnya pengantuk, Doethe berangkat dari kos-annya di Gang Kober dengan malas-malasan. Padahal jam sudah bergeser ke angka 8 dan ia sudah pasti akan terlambat lagi sampai di kantor.

Senin pagi memiliki semacam ketegangan yang khas di udara. Jalanan yang setengah basah oleh hujan deras minggu sore dan kemacetan yang hinggap disana-sini menggarisbawahi ketegangan yanng bisa membuat orang darah tinggi itu.

Angkutan umum yang padat dan tidak menyisakan harapan. Habis, harapan apalagi yang mau disisakan? Menunggu angkutan yang sekedar longgar saja (supaya bisa menyelipkannya tubuhnya yang overweight itu) seperti menunggu hujan di gurun pasir. Semakin menunggu, semakin frustasi saja tokoh kita ini. Rasanya setiap angkutan yang menyusul angkutan sebelumnya justru bermuatan lebih padat.

Ketika akhirnya ia berhasil menyangkutkan tubuhnya di salah satu angkutan, Doethe terpaksa menyerah pada marahnya dan mencak-mencak. Bagaimana tidak? Di depannya terentang jalan sekian kilometer yang seharusnya bisa dilalui dengan agak tersendat-sendat, hari ini dipadati oleh kendaraan seperti antrian ABG menonton AADC: ruwet dan tegang karena semua orang
ingin melaju duluan.

Lagu ringan Project-Pop membayang di kepalanya. "Isi kebun binatang tumpah semua."

Butuh hampir dua setengah jam bagi Doethe untuk sampai di kantornya. Tak perlu ditanya seberapa pekat aroma keringat bercampur 'uap besi' menempel di tubuhnya.

Namun, yang paling membuat Doethe ingin berteriak-teriak seperti orang gila di film Indonesia 'jaman dulu' adalah kenyataan berikut ini: Saat ia hendak mengambil handphonenya (yang ia kubur di dalam tas kerja, di balik kaos dalam cadangan dan beberapa kertas-kertas coretan serta buku agenda 2004) benda ajaib itu sudah raib.

"Padahal handphone 'busuk' begitu, kok masih ada aja yang mau ngambil ya?" ia akhirnya cuma bisa mengurut dada dan perut yang semakin gembul.

Saturday, December 20, 2003

Sisi Tempat Tidur yang Kosong

Terbangun pagi-pagi Kundang menyadari sisi tempat tidur sebelah kirinya kosong. Melongo ia memandangi kehampaan itu. "Bukankah tadi malam aku tidur dengan seorang bidadari di sisiku? Bukankah tadi malam kami bercinta dahsyat sekali?" gumunnya.

Kundang beringsut keluar dari kamar, jelas malas-malasan karena kebingungan. Sampai di geladak ia melihat langit cerah bukan main, beberapa awan yang terlihat nampaknya sangat jauh. Tidak ada tanda badai sedikitpun. "Ah, celaka! Kemana perginya istriku?" gumunnya.

Malin Kundang baru saja menikah dengan anak seorang saudagar di perantauan. Saudagar itu sudah tua renta dan membutuhkan sosok untuk menggantikannya, seorang menantu yang bisa menjaga anak perempuan satu-satunya sekaligus mampu menjalankan bisnisnya yang sudah besar.

Karena dasarnya saudagar itu, Datuk Batuah, adalah keturunan ningrat maka ia hanya bersedia bermenantukan orang ningrat juga. Itu sebabnya Kundang tidak pernah mengaku sebagai anak ibunya, seorang nelayan dari pulau kecil yang miskin. Ia mengaku sebagai kemenakan Datuk Rajo Base, seorang saudagar ningrat yang terbunuh oleh bajak laut. Karena Dt Rajo Base seluruh keluarganya terbunuh dalam peristiwa itu, tidak ada yang bisa menyangkal ceritanya.

Lagipula, tangan kanan Kundang di kapal ini, Malin Lagipau, mendukung cerita itu. Lagipau, seorang pembual dan anak ahli cerita keluarga Datuk Rajo Base kebetulan mengerti beberapa kebiasaan keluarga Datuk yang malang tersebut. (Tambah malang lagi sebenarnya nasib Dt Rajo Base karena namanya 'dijual' oleh Kundang untuk mendapatkan kekayaan dan istri yang cantik bukan main).

"Hei, Kundang nampaknya cuaca cerah hari ini!" suara Lagipau menggelegar tiba-tiba dari arah belakang.

Kundang tersentak dari lamunannya dan menoleh sigap. "Kau lihat istriku?" ujarnya.

"Ha ha ha ha. baru berapa malam kau bersamanya, masa' sudah kehilangan. Suami macam apa kehilangan istrinya?" ejek Lagipau.

"Jangan meledek aku kau, keparat" kata yang terakhir itu diucapkannya berbisik, tapi tidak cukup berbisik sehingga Lagipau juga mendengarnya.

"Kau sebut aku apa?" ujar Lagipau. "Tak tahu diuntung kau, jika bukan karena aku kau tidak akan jadi apa-apa... anak nelayan, peminta-minta! Puih!" Lagipau naik pitam.

Apa yang menyebabkan kedua laki-laki ini begitu cepatnya naik darah? Entah. Mungkin karena sebenarnya keduanya menyukai anak wanita Datuk Batuah. Ketika kemudian Lagipau menantang Kundang untuk pergi ke daerah pulau tempat ibunya tinggal dan berkunjung kesana, Kundang segera menjawab tantangan itu.

Ia sudah cukup panas sehingga lupa kisah yang diramalkan, bahwa jika ia pergi ke tempat ibunya ia tidak akan lagi mengenali wajah perempuan tua itu. Kemudian karena dianggap durhaka ia akan dikutuk menjadi batu.

Sementara itu, dalam perjalanan, Kundang tidur sendir. Sisi tempat tidur itu selalu kosong, karena anak gadis Dt Batuah lebih menyukai Lagipau yang pandai mendongeng daripada Kundang.

Wednesday, December 10, 2003

Mencintai Selamanya

Ia berjalan perlahan sepanjang gang yang ramai dengan penjual makanan (uap kaldu sapi yang mengepul, aroma menyengat dari bawang dan cabai yang digoreng, segarnya campuran nangka dan sirup), penjual cd bajakan (nada lagu jazzy, rock atau pop silih berganti membuat bising) dan beberapa tempat yang menyediakan jasa fotokopi (aroma tinta, kertas dan lampu kehijauan yang sesekali mengintip dari balik mesin fotokopi).

Di sampingnya seorang wanita berjalan seiring. Tidak ada yang bisa melihat wanita itu kecuali dirinya.

"Mengapa kamu masih disini?"

Wanita itu diam tak menjawab.

"Kamu sudah mati Dis, Ia telah mengambil nyawamu dari sisiku,"

Wanita itu masih saja berjalan disisinya, tak menghiraukan.

"Kenapa kamu masih disini?"

Wanita itu menunduk sedikit, seperti yang biasa dilakukannya jika sedang bertengkar.

"Jangan begini dong. Kamu tahu aku sedih sekali kalau kamu terus seperti ini,"

"Dis, pulanglah. Kamu sudah tidak boleh ada disini lagi," lanjut pria itu, matanya berkaca-kaca.

Dari kantong celananya, pria itu mengambil sebungkus rokok. Ia berusaha menyalakan rokok itu, tapi pemantiknya selalu ditiup angin.

Setelah beberapa kali mencoba, pria itu baru sadar kalau malam itu tidak ada angin sedikitpun.

"Dis, biarkan aku merokok. Toh, kamu juga tidak bisa mencium baunya lagi, tidak bisa menghirup asapnya lagi,"

Wanita itu menunduk, matanya berkaca-kaca.

Mereka sampai di ujung gang. Jalan raya di depan ramai dengan mobil yang lalu lalang dan orang-orang yang kemalaman, menunggu angkutan terakhir kemanapun.

"Jawab aku Dis. Kenapa kamu masih disini?"

"Aku sudah berjanji untuk mencintaimu selamanya... dan selamanya berarti selamanya, bukan sekedar seumur hidupku," bisiknya perlahan, mulutnya tidak bergerak, namun suaranya terdengar jelas di kuping pria itu.

Tiba-tiba malam menjelma dingin sekali.

Monday, December 08, 2003

Lagu Lirih dan Secangkir Teh

"Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I'm always there
"

Lagu itu lirih mengalun dari pojokan ruangan. Ini adalah ruang tunggu dokter bersalin, tempat sekumpulan calon-calon ayah menunggu resah. Tapi apa yang sebenarnya mereka gelisahkan? Lahir tidaknya anak adalah kehendak yang sudah diatur. Lagipula, kebanyakan ayah akan menjelma 'polisi' yang suka menerapkan larangan-larangan pada anaknya, yang setia mengancam, diam-diam mengawasi dan tiba-tiba menghukum keras setiap pelanggaran.

Terus, apa gunanya menjadi ayah. Yeah, setidaknya untuk beberapa waktu para laki-laki ini bisa menipu dirinya sendiri denan bermain-main asik bersama anaknya. Setidaknya, beberapa tahun pertama (kasus tertentu, bahkan hanya beberapa bulan) anak itu akan tampak sangat menggemaskan.

Memangnya anak adalah buah cinta? Nggak juga sih. Anak adalah hasil logis dari sebuah persetubuhan yang dilakukan oleh seorang pria dengan seorang wanita. Ketika sel sperma dan sel telur bertemu dalam janin, Boom! Jadilah onggokan darah yang berubah menjadi daging, kemudian diberi tulang.

Bagaimana jika Tuhan tidak menghendaki anak itu diberi ruh? "Kedua insan ini tidak akan sanggup Kuberi anak, mereka hanya akan menelantarkannya saja, suatu hari si anak akan minggat dan tidak pernah pulang ke rumah." Maka Tuhan memutuskan untuk tidak memberi mereka anak. Bagaimana?

Jadi. Kenapa kami masih gelisah saja di ruang tunggu yang pucat. Mendengar lirih seorang wanita menyanyikan lagu-lagu Beatles. Suara yang berasal dari speaker di pojok ruangan.

"To be there and everywhere
Here, there and everywhere
"

Lirih lagi ia menyelesaikan bait terakhir. Musik fade out dan seorang perawat datang membawakan segelas teh hangat.

"Pak, dokter ingin menemui anda," ujarnya lembut sambil memindahkan cangkir teh itu pada tangan saya.

Ketika dokter itu akhirnya mengatakan bahwa anak saya meninggal dalam kandungan. Bahwa istri saya tidak mampu menangani kehilangan darah yang besar saat operasi caesar. Bahwa sekarang saya benar-benar sendiri. Saya sungguh-sungguh berharap ada di ruang tunggu itu lagi. Mendengarkan lagu Beatles dinyanyikan oleh seorang wanita, dari awal lagi.

"To lead a better life I need my love to be here..."

Sunday, December 07, 2003

Menanti Salju Turun di Bogor

(written by Senja Jingga)

Kereta lewat 30 menit lebih dari jadwal, di stasiun bogor didekap getir hujan yang memukul rel-rel karatan.

Aku menunggu, seorang gadis membawa tas hitam berpayung biru kecil menggenggam buku bersampul kelabu. Bahkan hampir habis rombongan gerbong ketiga berangkat ke Jakarta dia tak kunjung datang.

Belum tuntas perjalanan ini dan kuputuskan menunggunya di suatu tempat lagi.

Siang merambat yang datar, lalu lintas yang ramai, orang-orang jalan bergegas entah hendak pergi kemana. Beberapa mahasiswa berteduh di pelataran beranda Mall (menikmati kepulan angin sejuk conditioner, atau menunggu kekasih?).

Kuselidik di seberang dan tak berharap menemu dia di sana. Mall terlalu penuh sesak barang-barang, manusia, keramaian, keriuhan yang nyaris absurd dan berulang-ulang. Dan kita penikmat keganjilan dari hijau pepohonan, gedung tua, jalan lengang, petang basah sehabis hujan...

Hampir jam dua siang kuteruskan mencari ke barat. Melewati toko-toko gemerlap namun suram estetika kunikmati sebuah lagu dari toko kaset seberang jalanan ; Pasrah, Emmi Kulit dalam irama jazzy nan pedih. Hampir satu refrain lagu, wajahnya samar-samar berlari di kumpulan penjual bunga. Lamat-lamat dia seperti berhenti di antara seikat aster dan membeli sekuntum.

Ah..Hendak kau beri siapa?

Diantara permulaan petang, gerimis turun sebentar, sisa pagi tadi mungkin tertahan dirombongan awan terakhir. Aku tiba di kampus. Dari gerbang, mahasiswa berjaket berjalan lalu lalang. Kuliah akhir sudah lewat rasanya, tapi sekilas masih terlihat ruang 101, kuliah "Kalkulus I' masih berlangsung. Dari jendela kusaksikan mata-mata yang lelah menatap angka di OHP tulis. Curiga menatap jam didinding. Sayu menatap senja yang gerimis.

Ah, dimana dia? Kuliah? aku makin gemetar menantinya..

Di tikungan Arboretrum, aku makin mengecil menghirup jalanan yang basah dan bau tanah lembab basah laboratorium hutan tadah hujan. Dan harapan makin mengerucut tapi misteri senyumnya menguntit, jangan-jangan muncul tiba-tiba dari atas tangga menuju perpustakaan pusat university (ah, kenapa kenangan masih terus berputar-putar dilingkungan ini. Adakah kampus sebuah penjara bagi kenangan dan cerita-cerita nostalgik?)

Kuteruskan saja dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak habis terjawab.

Kesadaran mungkin enggan pulih, jika saja senja menyadarkan, bahwa aku baru saja akan menentang malam. Kucari teman setia dalam kantung tas paling depan. Ah, ini dia teman paling penyabar dalam mendengarkan gundah gelisah, kawan paling cemerlang dalam merumuskan sintesa tentang rindu dan perih secara bersamaan; rokok.

Kusulut dan kuhisap dalam-dalam, Huss..kuhayati nikmat asap Filtra yang sedari tadi kulupakan ini.

Kemerlap lampu tercecer digenangan air hujan. Rerumputan sempoyongan dan basah. Senja tak jadi jingga. Bangku taman fakultas benar-benar lowong sekarang. Koridor sudah benar-benar putih lampu flouresens. Cukup dulu.

Mungkin sketsa melankolik wajahmu cuma asing mimpiku saja. Mungkin cuma ingin menggenapkan mimpi-mimpi ganjil kedukaan. Mungkin hanya seonggok harapan abstrak yang memang tak pernah utuh. Yang karena ketidak utuhan itulah membuat intensitas pencarian ini makin menarik dan memikat. Siapa kau/dia? aku tak pernah tahu. Muncul dan hilang selalu tiba-tiba.

Ditanah-tanah waktu ku cangkuli lahan pertanian. Di bangku kuliah paling kiri waktu kuliah menjadi benar-benar jemu dan memuakkan. Waktu aku harus meregang tangan menghentikan buret pada titik akhir titrasi. Ah, peri apa pula dia ini. Mengajarkan keteduhan saat emosi kadang memuncak dan meledak tak tertahankan.

Di perbatasan perjalanan yang akan selesai ini, sekilas namun kulihat jelas ia sedang berdiri di jalanan menunggu angkutan. Sketsa yang kubangun mewujud. Ia sedang menggenggam buku bersampul kelabu, menggendong tas hitam berbalut jaket hitam yang tertutup hingga ke jenjang lehernya. Kupandangi ia. Lampu sorot mobil sesekali menampar wajah itu. Melankolik, sendu dan ah, tipis bibir itu.. Kemudian, angkutan berhenti, ia bergegas naik, pergi tanpa mengikat janji untuk kembali.

Ehm, nikmat nian perjalanan ini. Makin menarik dan memikat, karena bukan titik akhir yang harus dikejar. Tapi pencarian ini yang sebenarnya kudambakan untuk tak pernah berakhir.

Dalam riang, aku pulang. Kubayangkan kamar telah menanti. kamar kos yang sempit, yang temaram, yang penuh coretan, yang indah yang belum dibayar...

Sunday, November 23, 2003

Rene Si Cantik

Rene duduk terpaku. Ia menatap lukisan yang bergantung di tembok di hadapannya. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita, persis seperti dirinya. Hanya saja, wanita itu nampak lebih bahagia dari Rene.

Rene pemurung. Setelah lelah menumpahkan kekesalannya dengan menatap lukisan itu, ia berjalan menunduk menuju kamarnya. Kamarnya terletak di lantai tiga kastil itu, tepat di menara barat yang menghadap ke danau jernih.

Sayangnya, Rene tidak pernah sempat menikmati danau yang indah, yang permukaannya mengkilap dibilas sinar matahari setiap pagi dan senja. Ia hanya punya waktu untuk mengeluhkan angin yang tajam mengiris-iris kulitnya, matahari yang terlalu terik untuk berjalan-jalan atau langit yang terlalu luas.

Ah, ya. Rene sebenarnya cantik. Tengoklah wajahnya yang bulat telur. Kulitnya putih gading dan lembut. Bola matanya yang coklat dihiasi oleh bulu mata yang lentik. Bibirnya? Ah, ya. Bibirnya yang merah segar dan penuh itu sering nampak menggemaskan bila mulai bergerak.

Sayangnya, Rene hanya senang merengut, merajuk dan menunduk. Ia lebih sering menitikkan air mata, murung dan sedih.

Rene tidak selalu begitu, dulu ia adalah gadis yang periang. Ia memerintahkan pembuatan taman yang indah di belakang kastil ini. Taman yang lengkap dengan segala air mancur dan jalan setapak yang dibuat dari batu-batu putih keemasan.

Suatu hari, seorang pemanah melepaskan panahnya menembus lambung Rene. Rene yang limbung menyeret jejak darah hingga ke dalam kastil, mengurung diri dalam kamarnya, dan hanya keluar untuk tenggelam dalam kesedihan. Karena, setelah panah itu mengoyak lambungnya dan menghabiskan darahnya, ia tidak bisa lagi menikmati taman yang indah, danau yang jernih atau apapun yang ada di kastil itu.

Thursday, November 20, 2003

Kukuruyuk

Ia mengurung dirinya dalam sebuah kurungan ayam. Bukan kurungan yang dibuat dari keratan bambu, tapi yang dibuat dari besi dan memiliki atap. Persis seperti yang dimiliki orang-orang kaya untuk ayam bekisar.

Semalaman ia tidur disitu. Kabarnya sih, mimpinya enak dan tidurnya nyenyak di kurungan ayam. Entahlah, mungkin memang dia sukanya begitu.

Tapi yang dibuat kelimpungan bukan istri atau anak-anaknya. Saleh punya seorang pembantu yang tugasnya khusus membersihkan kandang ayam. Setiap pagi Pipin, pembantunya itu, ditugasi untuk membersihkan 128 kandang ayam yang ada di rumah Kepala Kantor Kejaksaan itu. Kandang-kandang itu beragam, mulai dari yang terbuat dari kawat ayam hingga kandang super mewah yang dilengkapi pancuran air, sistem keamanan berkamera Closed-Circuit dan pintu gerbang dengan sistem identifikasi biometric. Wuih!

Pipin cuma bisa terbengong-bengong saat pagi itu ia melihat kandang itu diisi oleh majikannya sendiri. Tidak tega rasa hatinya untuk membangunkan pria tambun yang sedang tertidur nyenyak itu. Sepertinya dosa besar membangunkan seseorang yang sedang tidur seperti bayi yang baru kenyang netek.

Pipin mengetuk-ngetuk atap kandang ayam itu. Pelan-pelan sekali ia berbisik, dengan khidmat dan sopan. "Paaak.... bangun paak... pak Saleh? kandangnya mau saya bersihkan duluu..." suara perempuan asal Cipelang, Bogor, itu lirih sekali.

Lalu, tubuh Pak Saleh bergeliat perlahan. Matanya membuka. Ia melihat ke langit yang hampir terang. Lalu, tanpa peringatan apapun. Meneriakkan kokokannya. Hanya bunyinya bukan 'kukuruyuk' seperti lazimnya ayam.

Wednesday, September 24, 2003

Frustasi!

Dilemparkannya botol bir ke tembok, tidak pecah. Hanya suara dentuman yang tumpul dan lembab. Botol itu jatuh ke kasur dibawahnya, lagi-lagi dengan dentuman yang tumpul dan lembab.

FUCK! Sith berteriak, matanya jalang menatap langit-langit kamar yang berjamur.

Fuck! Fuck! Fuck! Fuck! setiap kata diucapkannya semakin keras dan semakin penuh kemarahan.

Mungkin itu satu-satunya cara Sith untuk menyampaikan emosinya: sebuah keputusasaan yang tiada henti-hentinya. Sith tidak ingin merasa kasihan pada dirinya sendiri, ia ingin menyalahkan orang lain. Sayang, tidak ada orang lain disitu.

Sith hanya sendiri. Dalam kamar yang pengap, tumpul dan lembab. Kamar yang dipenuhi bau-bau asing dari kaus kaki, sepatu dan keringat yang menumpuk.

Komputernya adalah satu-satunya hiburan. Bahkan, komputer telah menjadi hidupnya. Karena kedua kakinya yang buntung tidak memungkinkan Sith pergi kemana-mana dengan mudah.

Sith pernah punya kaki yang utuh, bertahun-tahun lalu. Terlalu lama di masa lalu untuk diingatnya.

Ia menatap lagi komputer yang tidak bergeming, satu-satunya benda yang tidak akan pernah ia kasari. Semarah apapun Sith, ia tak pernah mau memukul, menggebrak, menendang apalagi melempar komputernya itu. Satu-satunya hartanya, jiwanya, hidupnya yang paling berharga.

Ia mengambil lagi bir dari lemari pendingin mini-nya. Membukanya dengan pembuka botol bergambar Smiley Face, kuning dan tersenyum dengan mata dua buah tanda silang.

Di layar komputer satu kalimat yang paling membuatnya frustasi terjejer rapih dalam kotak chat:

Softspot:kamu mau ketemu aku?

b33tch!

Sri duduk di depan komputer, wajahnya memerah karena terlalu lama menatap monitor 17 inchi. Tapi saat ini ia sedang melihat ke bawah, menunduk tepatnya, memperhatikan jari-jari kakinya yang mulai memucat dan mengkerut.

Mungkin terlalu banyak keringat yang berkumpul dalam kaus kaki dan sepatu, ujar suara kecil yang tampaknya berasal dari bahunya sendiri.
Pasti karena itu, Sri menjawab, matanya masih tetap menatap dengan heran pada jari-jari kaki yang keriput disana-sini karena basah.

Sri baru selesai membaca tulisan online dengan judul Seks untuk Hacker sebuah tulisan komprehensif yang menjelaskan cara-cara berhubungan seks dengan lawan jenis, dengan bahasa yang mudah dipahaminya. Sri adalah seorang hacker, artinya ia sangat senang membongkar pasang elektronik, mengutak-atik sistem komputer dan sesekali membuat panik jaringan internet dengan mempublikasikan kelemahan-kelemahan sebuah sistem.

Sri, adalah seorang hacker, pahami ini sebagai kata halus untuk menyebutnya seorang maniak teknologi yang tidak memiliki waktu untuk bersosialisasi. Kecuali, tentunya, sosialisasi itu dilakukan melalui perantara mesin seperti di ruang chatting, email atau instant messenger.

Sri dikenal dengan nama softspot di kalangan bawah tanah. Hacker perempuan ini sudah malang melintang 5 tahun di dunia bawah tanah, namanya cukup terkenal namun sama sekali belum ada yang tahu wajahnya seperti apa.

Sekedar tahu saja, Sri tidak bisa dibilang cantik seperti kategori foto model dan (ehm) tidak memiliki buah dada yang besar, atau karakter fisik lain yang bisa dibilang seksi. Tapi Sri percaya pada kata-kata StJude, aktivis hacker wanita yang sudah meninggal, tidak perlu dada yang besar untuk menggaet pria.

Triing! suara seperti dering peri dalam kisah-kisah dongeng menggema di ruangan itu. Itu bukan suara peri, tetapi aplikasi instant messenger-nya yang menandakan ada seseorang mencoba berkomunikasi dengannnya. (Sri menjalankan aplikasi Yahoo Messenger di mesin Linux, salah satu dari beberapa komputer yang mengonggok di kamarnya).

Pria itu lagi, gumam Sri. Sudah beberapa hari ini pria itu selalu berusaha menghubungi Sri, entah siapa pria ini.

Bagaimana jika pria ini aku gunakan untuk mempraktekkan tulisan itu? gumam Sri sendiri. Suara di bahunya menghembuskan napas, sepertinya hendak mengatakan sesuatu.