Sunday, February 13, 2005

Angin Bertiup Dingin

Sore itu angin bertiup dingin. Pikiranku melayang pada kamar yang hangat di lantai dua sebuah rumah sederhana di Perumahan Rakyat. Di situ, di sebuah ruangan berlantai kayu, di atas dua bilah kasur busa yang disatukan agar memuat dua orang, tertidur istriku. Wanita bertubuh mungil dan kurus.

Tubuhnya, aku bayangkan, pasti menggigil. Meskipun itu ruangan yang hangat. Wajar saja, karena beberapa hari ini ia baru saja mengalami hal yang berat. Baik secara badaniah, apalagi secara batiniah.

Aku melesakkan tanganku lebih dalam ke kantung jaketku. Mengharapkan kehangatan yang lebih dalam. Mungkin bisa membantuku meredam kegagalan yang beku.

Hari ini aku gagal lagi. Cerita yang aku tulis untuk sebuah majalah, tempat temanku bekerja, lagi-lagi tidak dimuatnya.

Kemarin juga sama saja. Pekerjaan menerjemahkan yang dijanjikan padaku dari seorang kawan ternyata tidak juga tembus. Ia selalu menunda-nunda waktunya, aku sampai berpikir ia mungkin memang tidak pernah benriat untuk memberikan pekerjaan itu padaku.

Jika ada yang bilang memiliki teman di media akan memudahkan naskah anda untuk dimuat, jangan percaya!

Sebagai mantan wartawan, satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah hal yang berkaitan dengan tulis-menulis. Jika dulu yang kutuliskan adalah fakta, maka sekarang fiksi. Hanya itu bedanya.

Namun aku kira mereka tidak akan pernah memandangku dengan dua mata lagi. Satu mata mereka pasti tertutup dengan sebuah coreng hitam. Aku pernah menerima amplop.

Ya. Mungkin tabu paling besar bagi kebanyakan wartawan adalah menerima amplop. Yang konon bisa disetarakan dengan menerima suap.

Perusahaan tempatku bekerja segera tahu ketika pada suatu liputan ke rumah seorang mantan pejabat aku dibekali amplop. Aku menerima amplop itu. Sumpah, itu pertamakalinya aku menerima amplop.

Kondisi yang mencekik leher yang memaksaku melakukan itu. Ayahku sakit keras, ibuku semakin pikun. Listrik dan telepon di rumah mereka, tempat aku dan istriku menumpang, sudah berbulan-bulan mati. Sementara istriku sedang hamil muda. Apa yang bisa aku lakukan saat disodorkan sebuah amplop padata uang ratusan ribu rupiah?

Tapi setidaknya aku bukan wartawan bodrek yang menodong amplop pada tokoh-tokoh dan direktur-direktur! Setidaknya aku masih memiliki harga diri di situ! Ya kan?

Aku menuju rumah. Istriku yang baru saja keguguran pasti menggigil. Kami bahkan tidak mampu membayar dukun beranak untuk memijat istriku.

Hari-hari belakangan ini pendarahannya makin menghebat. Padahal sudah hampir sepekan sejak janin dalam kandungannya meluruh. Sesak dalam dadaku terasa makin menggila.

Aku mencoba menghubunginya lewat ponsel usang yang mati-matian kupertahankan. Tapi telepon rumah sudah tidak tersambung lagi. Ponsel istriku juga sudah lama terjual, jadi tidak mungkin sms.

Aku hanya ingin mengabari bahwa aku gagal lagi. Tapi temanku menitipkan selembar amplop, di dalamnya beberapa lembar uang puluhan ribu. Cukup untuk makan beberapa hari ke depan.

Aku hanya ingin mengatakan padanya untuk tidak khawatir. Aku ingin ia tahu bahwa angin yang menusuk dingin ini tidak akan membuatku menyerah. Aku ingin ia tahu bahwa aku akan selalu berusaha untuknya. Bahwa aku memang benar-benar selalu jatuh cinta setiap kali melihat senyumnya yang terkembang.

Aku ingin mengatakan bahwa aku juga kangen. Kangen, seperti dibisikkannya tadi pagi saat aku hendak berangkat.

Perasaanku aneh, aku harus cepat pulang. Entah kenapa aku merasa bisikannya tadi pagi adalah salam perpisahan.

7 comments:

Unie said...

wuaaaaa....ceritanya bagus beinjettt.....topp dahh cakk....

Anonymous said...

..mungkin kamu ga pernah sadar kalau aku selalu 'cinta' cerpen-cerpenmu. mungkin ketika aku diam, ada sejuta pujian (mungkin juga sejuta 'protesan') yang tersembunyi tak mampu tersampaikan. satu hal, kamu mampu 'mencipta' nyata seperti fiksi dan fiksi seperti nyata.
-realrainy-

merlyna lim said...

Oh.. cerita-nya terasa begitu nyata... dan aku tersedot dalam kata-kata sampai tak mampu memisahkan realitas dari ilusi..
mungkin karena memang dalam ilusi terdapat realita pula.
terimakasih u/ sharing cerita2nya di sini & salam kenal.

sa said...

duh. menyentuh sekali, cak.

Wicak said...

Wow. Thanks banget untuk komennya everybody. :D

sa said...

cak, mohon cek emailmu ya. butuh komentar, nih. :)
www.sketsahati.com

Anonymous said...

fuih... (menghela nafas panjang)..larut dan larut, kirain cerita sesungguhnya.. cak kl mo bikin buku kasih tau yaa.